AKSESPUBLIK.COM, BANTAENG — Mahasiswa KKN Tematik Inovasi Daerah Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) menginisiasi langkah nyata dalam mendorong pertanian berkelanjutan di Mahasiswa KKN Tematik Inovasi Daerah Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) di Desa Bonto Tangnga, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng. Melalui program inovatif, mereka menggelar Sosialisasi dan Praktik Pembuatan Eco-Enzyme berbasis limbah pasca panen, Kamis (15/1/2026).
Bertempat di Kantor Desa Bonto Tangnga, kegiatan ini menyasar para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna serta petani muda setempat. Fokus utamanya adalah memberikan solusi atas masalah limbah pertanian yang selama ini belum terkelola dengan maksimal.
Eco-enzyme diperkenalkan sebagai produk hasil fermentasi limbah organik seperti sisa sayuran dan buah-buahan. Produk ini dikenal multifungsi; dapat digunakan sebagai:
- Pupuk cair organik untuk menutrisi tanaman.
- Pengendali hama alami (pestisida nabati).
- Peningkat kualitas tanah agar lebih subur secara alami.
”Kegiatan ini diawali dengan edukasi konsep, lalu langsung praktik. Peserta diajarkan cara memilah bahan, menghitung perbandingan komposisi yang tepat, hingga teknik fermentasi yang benar,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKN Unhas.
Kepala Desa Bonto Tangnga, Dr. Mahmuddin, S.Pd., M.Pd., menyambut hangat inisiatif ini. Menurutnya, inovasi ini sangat relevan dengan karakteristik Desa Bonto Tangnga yang memiliki hasil pertanian melimpah namun masih minim pengelolaan limbah.
”Kegiatan ini sangat dibutuhkan. Selain memberikan pengetahuan baru, ini membuka wawasan petani dan generasi muda bahwa limbah pasca panen punya nilai guna tinggi. Ini sejalan dengan visi desa menuju pertanian ramah lingkungan,” ungkap Dr. Mahmuddin.
Melalui program ini, mahasiswa KKN Unhas berharap ketergantungan petani terhadap bahan kimia sintetis dapat berkurang secara bertahap. Kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem melalui pengolahan limbah diharapkan menjadi budaya baru di kalangan petani muda.
Ke depannya, eco-enzyme diharapkan tidak hanya menjadi proyek sesaat, tetapi menjadi inovasi lokal yang diaplikasikan secara konsisten demi mewujudkan Desa Bonto Tangnga sebagai desa yang produktif, ramah lingkungan, dan berdaya saing.(*)
Comment