Tim PKM Polipangkep Dampingi Penerapan Manajemen Teknologi Sarungisasi Terintegrasi pada Tanaman Kakao

AKSESPUBLIK.COM, SOPPENG — Wilayah Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng merupakan salah satu sentra produksi kakao di Kabupaten Soppeng.

Animo masyarakat di Kecamatan Marioriwawo dalam membudidayakan kakao ini cukup besar. Terlihat dari tumbuh dan berkembangnya beberapa kelompok tani yang ada di daerah ini.

Namun dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan produksi dan produktivitas yang disebabkan buruknya manajemen tanaman.

Juga karena eknologi budidaya yang kurang optimal, tanaman yang sudah tua, prediksi iklim, ataupun karena serangan hama dan penyakit.

Karenanya Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) turun tangan.

Mereka menggelar Pelatihan dan Implementasi Manajemen Teknologi Sarungisasi pada buah kakao di Kelurahan Tettikenrarae Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng

Tim yang terdiri dari Dr Syahruni Thamrin SP MSi, Dr Basri Baba SP MP dan Nildayanti SP MSi dan sejumlah mahasiswa yang berasal dari Jurusan Teknologi Produksi Pertanian.

Secara bergantian menyampaikan Penyuluhan tentang Manajemen Teknologi Sarungisasi Terintegrasi, Pengendalian Hama Penyakit dengan Teknik Sarungisasi pada Buah Kakao, Sabtu (23/8).

“Kegiatan dilanjutkan dengan Pelatihan Praktik Perakitan dan Penggunaan Alat Teknologi Sarungisasi,” kata Ketua Tim PKM, Syahruni Thamrin.

Manajemen teknologi sarungisasi terintegrasi melibatkan pengelolaan seluruh aspek budidaya secara sistematis.

Mulai dari pemilihan bibit unggul hingga pengendalian hama dengan sarungisasi yang mencakup aspek pemilihan buah, waktu dan cara pembungkusan, bahan sarung yang digunakan, hingga monitoring dan evaluasi hasil di lapangan.

Melalui penerapan sarungisasi yang terintegrasi, terarah dan terpadu, diharapkan sarungisasi tidak hanya mampu menekan serangan hama penyakit.

“Tetapi juga berdampak nyata terhadap peningkatan pendapatan petani kakao,” katanya.

Kegiatan PKM ini merupakan bagian dari hibah yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai bentuk penguatan sinergi antara perguruan tinggi dan mitra usaha.

Syahruni Thamrin menyampaikan kegiatan ini menunjukkan bahwa Perguruan Tinggi tidak hanya berperan sebagai Lembaga Pendidikan.

Tetapi juga sebagai motor penggerak pembangunan masyarakat melalui transfer pengetahuan dan Teknologi.

Lebih lanjut dikatakan bahwa Manajemen Teknologi sarungisasi terintegrasi ini merupakan upaya penggunaan teknologi yang murah dan ramah Lingkungan.

“Karena tidak perlu lagi obat pemberantas hama penyakit yang berupa zat kimia yang harganya mahal dan bisa memberi dampak bagi lingkungan,” bebernya.

Muhammad Aris selaku Ketua Kelompok Tani Sekkang Mata II menyampaikan kegiatan ini sangat membantu petani. Bisa menambah pengetahuan dan wawasan mereka.

“Juga memicu semangat petani guna lebih memperhatikan kakaonya sehingga produktivitasnya bisa meningkat lewat Manajemen Teknologi sarungisasi yang terintegrasi,” kata Aris. (*)

 

 

 

 

Comment