AKSESPUBLIK.COM, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), menerima silaturahmi Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar di ruang kerjanya. Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Ketua HMI Cabang Makassar, Sarah Agus Alim, menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah kota dan organisasi kepemudaan dalam pembangunan kota.
Pertemuan tersebut turut membahas rencana pelaksanaan Kelas Progresif Bertema “Reformasi Jalan Perlawanan” oleh HMI, namun fokus utama arahan Wali Kota adalah peran pemuda sebagai agen perubahan dalam isu strategis kota, meliputi kebersihan, pemberdayaan ekonomi, peningkatan kompetensi, dan pemanfaatan digitalisasi.
Munafri Arifuddin secara khusus mengajak HMI untuk aktif dalam penanganan masalah sampah di Makassar melalui program Bank Sampah Pemuda. Ia menekankan bahwa masalah kebersihan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.
Wali Kota memaparkan bahwa Makassar menghasilkan 100 ton sampah per hari, di mana 60 persen di antaranya adalah sampah organik. Untuk sampah plastik, terdapat potensi ekonomi karena sudah ada empat pabrik pengolahan berkapasitas 50 ton per hari yang siap membeli sampah layak daur ulang dengan harga antara Rp5.000 hingga Rp11.000 per kilogram.
“Sampah plastik itu punya nilai ekonomi. Kalau ini dikelola dengan baik melalui bank sampah, uangnya akan berputar di masyarakat,” jelas Appi.
Appi menjelaskan, Pemkot Makassar tengah menjalankan sistem penanganan sampah terintegrasi dengan target ambisius: rumah tangga zero waste pada tahun 2027. Untuk mencapai hal ini, empat metode wajib diterapkan di tingkat RT/RW:
* Pembuatan komposter rumah tangga.
* Produksi eco-enzyme.
* Budidaya maggot.
* Pembuatan teba modern (lubang pengolahan sampah komunal).
“Saya tegaskan, mulai tahun depan sampah rumah tangga yang tidak dipilah tidak akan diangkut petugas kebersihan. Ini sistem reward and punishment,” tegasnya.
Ia mencontohkan keberhasilan di Kecamatan Panakkukang, di mana seorang pelaku ekonomi sirkular berhasil membudidayakan 600 kilogram maggot setiap hari, membutuhkan 3 ton sampah organik dari Pasar Kalimbu dan Terong. Maggot tersebut menjadi pakan lele, ayam, dan diolah menjadi tepung.
Untuk mengurangi beban TPA Tamangapa yang timbunan sampahnya kini mencapai 17 meter, Pemkot juga mendorong dua proyek energi berbasis sampah: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai pengganti batu bara.
Selain isu lingkungan, Munafri juga mengajak HMI berkolaborasi dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui program Training Hub di Makassar Creative Hub (MCH).
“Training Hub bukan hanya milik pemerintah. Teman-teman HMI bisa bikin Training Hub sendiri. Pemerintah justru mendorong agar organisasi kepemudaan punya pusat pelatihan mandiri,” ujar Munafri.
Menurutnya, Training Hub telah terbukti membantu anak muda Makassar mendapatkan pekerjaan dan bahkan membangun usaha berbasis komunitas. Ia menepis anggapan program ini eksklusif, menegaskan bahwa fasilitas ini terbuka untuk umum dan banyak perusahaan datang langsung mencari tenaga kerja fresh graduate dari sana.
Menutup pertemuan, Munafri mengapresiasi kegiatan Kelas Progresif HMI dan berharap outputnya tidak hanya berhenti pada tataran diskusi.
“Saya ajak HMI bukan hanya bicara perubahan, tapi ikut kerja dan turun ke masyarakat. Kita bangun Makassar bersama,” pungkasnya.(*)
Comment