AKSESPUBLIK.COM — Di tengah penurunan produktivitas jagung nasional dalam tiga tahun terakhir, dari 5,98 ton per hektare pada 2022 menjadi 5,94 ton pada 2024 (BPS, 2025), Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkenalkan solusi inovatif: jagung Sintetik Unhas (SINHAS-1).
Varietas ini menjadi harapan baru bagi petani di wilayah kering dan lahan marginal seperti Jeneponto, dan beberapa kawasan kritis di Sulawesi Selatan. Dengan daya tahan terhadap kekeringan dan kebutuhan pupuk nitrogen yang rendah, SINHAS-1 menjadi jawaban atas tantangan pertanian Indonesia di tengah perubahan iklim.
Jagung dan Tantangan Produksi Nasional
Jagung merupakan salah satu komoditas strategis nasional. Selain menjadi sumber pangan pokok bagi sebagian masyarakat, jagung juga menjadi bahan baku pakan ternak, industri makanan, dan bioetanol. Namun, produktivitas jagung di Indonesia masih fluktuatif.
Ketergantungan pada varietas hibrida yang membutuhkan banyak air dan pupuk nitrogen sering kali membuat petani di wilayah kering kesulitan mencapai hasil optimal. Kondisi ini diperburuk oleh anomali iklim yang memperpanjang musim kemarau, menurunkan ketersediaan air tanah, serta mempersulit penyerapan unsur hara oleh tanaman.
Akibatnya, banyak lahan jagung di kawasan timur Indonesia mengalami penurunan hasil panen hingga 80%, bahkan gagal panen. Di sisi lain, harga pupuk nitrogen yang terus meningkat membuat biaya produksi melonjak.
Hasil penelitian di beberapa Lokasi yang dilakukan peneliti Unhas menunjukkan, petani di Jeneponto dan Nusa Tenggara Timur yang cenderung kering, sering mengeluhkan hasil panen yang tidak sebanding dengan biaya pupuk,” Dari sinilah muncul ide perlu untuk menghadirkan varietas jagung yang lebih adaptif terhadap kondisi ekstrem.”
Lahirnya Varietas SINHAS-1
Berangkat dari permasalahan tersebut, tim peneliti dari Fakultas Pertanian Unhas mengembangkan jagung Sintetik Unhas (SINHAS-1), varietas jagung bersari bebas yang tahan terhadap cekaman kekeringan dan rendah nitrogen.
Setelah melalui uji multilokasi dan pengujian laboratorium selama beberapa tahun, varietas ini resmi dilepas oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2019 melalui SK Nomor 484/HK.540/C/10/2019. Jagung SINHAS-1 memiliki potensi hasil mencapai 10,71 ton per hektare, dengan rata-rata hasil lapangan 7,82 ton per hektare. Pada kondisi kekeringan, hasilnya masih stabil di kisaran 6,27 ton per hektare, sedangkan pada kondisi nitrogen rendah mencapai 6,41 ton per hektare.
Bahkan pada kombinasi kekeringan dan nitrogen rendah, hasilnya tetap bisa mencapai 4,75 ton per hektare. Angka ini menunjukkan bahwa SINHAS-1 memiliki kemampuan beradaptasi tinggi di lahan-lahan marginal, tanpa memerlukan input besar. Dari sisi morfologi dan fisiologi, tanaman ini memiliki sistem perakaran yang lebih dalam, efisiensi transpirasi yang baik, serta kemampuan mempertahankan klorofil lebih lama sehingga proses fotosintesis tetap optimal meskipun kekurangan air.

Benih Murah, Akses Luas bagi Petani
Selain keunggulan agronominya, benih jagung SINHAS-1 memiliki kelebihan utama lain: harga yang jauh lebih murah. Sebagai varietas bersari bebas, benih ini dapat diproduksi secara massal dengan harga sekitar Rp15.000 per kilogram, dibandingkan dengan benih hibrida yang bisa mencapai Rp100.000/kg. Harga murah ini memberi peluang besar bagi petani kecil dengan modal terbatas untuk menanam benih berkualitas tanpa harus mengorbankan biaya operasional tinggi.
“Jagung hibrida memang unggul di lahan optimal dengan input tinggi, tapi tidak semua petani bisa menjangkaunya,” lebih lanjut disampaikan oleh salah satu dosen pembimbing PPUPIK Unhas.
“SINHAS-1 hadir bukan untuk menyaingi hibrida, tetapi untuk mengisi ceruk pasar petani lahan kering yang selama ini belum terlayani.” Kelebihan lainnya, benih SINHAS-1 tidak kehilangan daya hasil jika digunakan kembali di musim tanam berikutnya (turunan F2), berbeda dengan benih hibrida yang mengalami penurunan hasil signifikan. Hal ini menjadikan varietas ini lebih ekonomis dan berkelanjutan bagi petani tradisional.
Produksi dan Sertifikasi Benih
Produksi benih SINHAS-1 dilakukan melalui skema Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Unhas yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan masyarakat tani. Proses produksi dilakukan di lahan Fakultas Pertanian (Exfarm) Unhas dan di Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, dengan pendampingan teknis dari Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Serealia (BPPTS) Maros. Setiap tahap produksi mengikuti prinsip Good Seed Production Practices (GSPP), mulai dari pengaturan jarak isolasi antarvarietas minimal 400 meter untuk mencegah kontaminasi silang, inspeksi lapangan berkala, hingga proses pasca panen yang terstandar.
Setelah panen, benih dikeringkan hingga kadar air di bawah 12%, lalu dibersihkan dan disortir menggunakan seed cleaner untuk menjaga viabilitas dan kemurnian genetik di atas 98%. Seluruh produksi benih SINHAS-1 diawasi dan disertifikasi oleh BPPTS Maros dan Kementerian Pertanian agar memenuhi standar mutu nasional (SNI 01-6233-2000). Proses sertifikasi ini penting untuk menjamin kualitas benih sekaligus melindungi petani dari benih palsu atau bermutu rendah.
Sinergi Akademik dan Pemberdayaan Mahasiswa
Kegiatan produksi benih SINHAS-1 tidak hanya berorientasi pada hasil ekonomi, tetapi juga menjadi media pembelajaran praktis bagi mahasiswa. Melalui PPUPIK, mahasiswa Fakultas Pertanian dilibatkan langsung dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga proses pengemasan benih.
Model ini memperkuat konsep “kampus sebagai laboratorium hidup”, di mana mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengembangkan keterampilan teknis dan kewirausahaan di bidang pertanian. Program ini juga menjadi contoh nyata hilirisasi riset di perguruan tinggi, dari laboratorium menuju masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar menjadi produsen benih, bukan hanya pengguna teknologi, tapi untuk mencetak lulusan yang bukan hanya siap kerja, tetapi siap menciptakan pekerjaan.
Strategi Pemasaran dan Distribusi
Untuk memastikan keberlanjutan produksi, Unhas menerapkan strategi hybrid marketing yang menggabungkan pendekatan konvensional dan digital. Promosi dilakukan melalui pameran pertanian, demonstrasi lapang (demplot), serta jaringan alumni Fakultas Pertanian yang tersebar di berbagai daerah.
Strategi word of mouth juga terbukti efektif dalam memperkenalkan SINHAS-1 ke kalangan petani. Selain itu, sistem distribusi benih mengadopsi model Economic Order Quantity (EOQ) agar ketersediaan benih tetap stabil. Harga jual yang tetap terjangkau dikombinasikan dengan pendekatan social pricing, strategi penetapan harga yang mempertimbangkan kemampuan beli petani kecil. Pemerintah daerah dan BPPTS Maros turut menjadi mitra utama dalam penyaluran benih hingga ke wilayah terpencil.

Dampak Sosial dan Ekonomi
Kegiatan produksi dan distribusi benih SINHAS-1 telah memberikan dampak nyata di tiga sektor utama:
- Pemberdayaan petani ; petani mendapatkan akses pada benih unggul yang hemat air dan pupuk, sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan menekan biaya input.
- Peningkatan kapasitas mahasiswa dan tenaga teknis; kegiatan Training for Trainer menjadikan mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja dan mampu menjadi pelaku kewirausahaan pertanian.
- Kemandirian universitas; melalui penguatan fungsi Exfarm Fakultas Pertanian sebagai unit usaha akademik berbasis inovasi dan riset.
Secara makro, produksi benih SINHAS-1 turut mendukung agenda nasional kemandirian benih dan ketahanan pangan, terutama di tengah ancaman perubahan iklim global. Riset yang dipublikasikan di Frontiers in Plant Science (Du et al., 2025) menegaskan bahwa varietas yang toleran terhadap stres lingkungan berperan penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan di wilayah semi-arid.
Tantangan dan Arah Pengembangan ke Depan
Meskipun memiliki banyak keunggulan, pengembangan SINHAS-1 tetap menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam memperluas skala produksi dan memperkuat sistem distribusi nasional.
Diperlukan dukungan lebih besar dari pemerintah daerah dan sektor swasta untuk memastikan rantai pasok benih berjalan lancar dari produsen ke petani. Ke depan, tim peneliti Unhas menargetkan uji multilokasi di berbagai agroekosistem kering di Indonesia bagian timur untuk mengukur stabilitas genotipe dan efisiensi pemupukan nitrogen di lapangan. Uji ini juga penting untuk memperkuat data adaptasi varietas di berbagai kondisi lingkungan sebelum diadopsi secara nasional.
Selain itu, pengembangan model kemitraan antara universitas, pemerintah, dan kelompok tani akan mempercepat hilirisasi inovasi. Model triple helix ini memungkinkan transfer teknologi berjalan lebih cepat dan efektif, menjadikan universitas bukan hanya pusat ilmu, tetapi juga motor ekonomi lokal.
Menuju Kemandirian Benih Nasional
SINHAS-1 menjadi contoh konkret bahwa inovasi lokal mampu memberikan solusi nyata bagi tantangan global. Di tengah krisis pangan dunia dan ketergantungan pada impor benih, hadirnya varietas jagung bersari bebas yang tangguh dan terjangkau menjadi langkah penting menuju kedaulatan benih nasional.
Dengan dukungan riset yang berkelanjutan, kemitraan lintas lembaga, dan semangat inovasi di kampus, SINHAS-1 berpotensi menjadi pelopor “jagung rakyat” Indonesia, tangguh di lahan kering, hemat biaya, dan berkelanjutan secara ekonomi maupun ekologi.
Seperti disampaikan oleh salah satu anggota tim peneliti Unhas, “SINHAS-1 bukan hanya varietas jagung, tapi simbol harapan. Harapan agar petani kita bisa mandiri, agar kampus berdaya cipta, dan agar Indonesia tidak lagi tergantung pada benih impor.”
Penulis,
Tim Peneliti;
Muh. Farid BDR, Muhammad Fuad Anshori, Rafiuddin Rafiuddin, Salengke Salengke, , Ifayanti Ridwan, Sakka Pati, dan Amin Nur.
Comment