Wamen Stella Christie: Calon Pemimpin Wajib Hindari ‘Survivor Bias’ dalam Policy Making

AKSESPUBLIK.COM, MAKASSAR — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengajak 60 ketua dan pengurus organisasi mahasiswa yang menjadi peserta Indonesia Future Leaders Camp (FLC) Regional III untuk mengasah kemampuan berpikir analisis yang komprehensif, khususnya dalam menghindari jebakan survivor bias saat merumuskan kebijakan.

​Dalam pembukaan FLC Regional III di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI) hari Rabu (12/11), Wamen Stella menekankan bahwa kemampuan analisis adalah modal utama yang menentukan kualitas keputusan seorang pemimpin, yang dampaknya bisa meluas bagi banyak orang.

​Menggugah pola pikir para calon pemimpin muda, Wamen Stella memaparkan konsep survivor bias melalui kisah yang terjadi pada Perang Dunia II. Ia menceritakan bagaimana ilmuwan militer kala itu keliru dalam menarik kesimpulan ketika menganalisis pesawat yang kembali dari medan tempur.

​”Mereka menemukan banyak lubang tembakan pada bagian sayap pesawat yang kembali, dan memutuskan untuk memperkuat bagian tersebut. Namun ternyata keputusan itu salah,” papar Wamen Stella.

​Menurutnya, pesawat yang kembali justru adalah yang mampu bertahan meski sayapnya tertembak. Sementara itu, pesawat yang jatuh kemungkinan besar terkena tembakan di bagian vital yang justru tidak sempat diperkuat dan tidak teranalisis.

​”Inilah yang disebut survivor bias, kesalahan dalam menarik kesimpulan karena hanya menganalisis yang terlihat, bukan yang hilang atau gagal,” tegasnya.

​Kesalahan analisis serupa, lanjutnya, kerap terjadi di dunia akademik dan profesional. Banyak orang hanya melihat contoh keberhasilan tanpa memahami proses panjang dan kegagalan yang mendasarinya. Ia berpesan agar mahasiswa membangun kemampuan berpikir kritis yang mendalam.

​Setelah menggugah pentingnya analisis yang sehat, Wamendiktisaintek memberikan kerangka berpikir praktis yang ia gunakan dalam policy making, yaitu mengukur Impact (Dampak), Feasibility (Keterlaksanaan), dan Resistance (Resistensi).

​Impact (Dampak): Setiap ide atau program harus dimulai dengan pertanyaan fundamental: “Apa dampaknya? Untuk siapa? Dan seberapa besar dampaknya?” Wamen Stella menekankan bahwa ide tidak bisa dinilai hanya berdasarkan klaim subjektif seperti ‘bagus’ tanpa adanya ukuran yang jelas.

​Feasibility (Keterlaksanaan): Ide brilian tidak berarti jika tidak bisa dieksekusi di lapangan. “Seorang pemimpin tak selalu perlu punya ide hebat, tetapi harus mampu membuat ide hebat itu terlaksana,” ujarnya, mencontohkan studi kasus kebijakan luar negeri yang gagal karena tidak terhubung dengan realitas.

​Resistance (Resistensi): Seorang pemimpin harus mampu memprediksi dan mengelola perlawanan terhadap kebijakan baru. Kemampuan untuk mengantisipasi sumber resistensi ini sangat krusial demi keberhasilan implementasi program.

​Wamen Stella menutup materinya dengan tantangan agar para peserta FLC menerapkan analisis ini dalam keseharian mereka. “Kalian adalah calon pemimpin bangsa… selamat menganalisa dan selamat berkarya untuk kalian semua,” pungkasnya.

​Indonesia Future Leaders Camp (FLC) adalah program bergengsi yang diadakan oleh Kemdiktisaintek untuk menyiapkan generasi pemimpin muda yang berintegritas, adaptif, dan visioner. FLC Regional III ini diikuti oleh 60 ketua dan pengurus BEM serta organisasi ekstrakampus dari wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.

​Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, juga menyampaikan harapannya kepada para peserta dalam pembukaan FLC Regional I. “Kuncinya satu, mimpi yang setinggi-tingginya. Tapi kemudian anda juga harus kejar terus secara tekun mimpi besar tersebut,” tegas Menteri Brian.(*)

Comment