AKSESPUBLIK.COM, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menerima audiensi dari Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Kota Makassar dan Panitia Festival Jappa Jokka Cap Go Meh 2026 di Kantor Wali Kota Makassar, Kamis (22/1).
Pertemuan ini membahas kesiapan festival tahunan tersebut yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026 di sepanjang Jalan Sulawesi.
Wali Kota didampingi oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Andi Patiware Bau Djemma, dan Kepala Dinas Pariwisata, Achmad Hendra Hakamuddin. Sementara dari pihak panitia, hadir tokoh-tokoh penting seperti Ketua Permabudhi Sulsel Dr. Ir. Yonggris, M.M., serta Ketua Panitia pelaksana Suzanna, S.E., M.Pd.
Festival tahun 2026 ini memiliki keunikan tersendiri karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Menanggapi hal tersebut, panitia telah merancang konsep yang menjunjung tinggi toleransi dan inklusivitas.
Ketua Panitia, Suzanna, menjelaskan bahwa rangkaian acara akan disesuaikan dengan suasana Ramadan. Beberapa agenda unggulan meliputi:
- Tabligh Akbar bersama Ustadz Das’ad Latif.
- Kegiatan Sosial & Religi: Pasar murah, lomba patrol Ramadan, ngabuburit, serta buka puasa bersama.
- Hasamitra Heritage Run: Lari tengah malam yang akan dilaksanakan pada Minggu malam, 1 Maret 2026, dimulai pukul 21.00 WITA dari Gerbang China Town.
”Jappa Jokka yang berarti ‘jalan-jalan’ dalam perpaduan bahasa Makassar, Bugis, dan Tionghoa, dirancang sebagai ruang publik yang bisa dinikmati semua kalangan tanpa sekat,” ujar Dr. Yonggris menambahkan.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyatakan dukungan penuh terhadap acara ini. Ia menegaskan bahwa Jappa Jokka Cap Go Meh telah resmi masuk dalam kalender event tahunan (COE) Kota Makassar.
“Ini adalah simbol harmoni dan keberagaman kita di Makassar. Saya instruksikan untuk segera dilakukan rapat koordinasi dengan dinas-dinas terkait agar pelaksanaan teknis, terutama pengamanan dan kebersihan, berjalan lancar,” tegas Wali Kota.
Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi pesta budaya warga Tionghoa, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kreatif dan simbol kuat Makassar sebagai kota multikultural yang rukun.(*)
Comment