Konflik antar elite ini bukan konflik dengan rakyat seperti yang terjadi pada Pemilu 2019 lalu, yang menyebabkan konflik horizontal dan polarisasi ideologi. Menyebabkan pembelahan.
Banyak orang dipersekusi dan dikriminalisasi. Kalau ini, orangnya tidak saling berhadap-hadapan, jumlahnya tidak besar dan konfliknya senyap. Tapi tahu-tahu si fulan ditangkap, dipenjara.
Ketua Umum Partai Gelora ini berpandangan, bahwa upaya saling bongkar kasus yang terjadi di Pilpres 2024, mirip dengan yang terjadi pada Pemilu 2014 lalu.
Dimana ketika itu muncul kasus skandal Bank Century dan beberapa kasus besar lainnya. Dalam konflik antar elite ini, tidak diketahui siapa pelaku sebenarnya, sehingga akan menjadi sekedar gosip belaka.
Sementara perspektif ketiga adalah krisis narasi atau ideologi. Kalau kita tidak punya senjata ideologi, ya memakai senjata lain, namanya dosa.
Karena itu, dalam Pemilu 2024 nanti tidak bisa membayangkan akan ada satu pesta demokrasi yang cantik, estetika dan kelihatan keindahannya.
“Tidak akan ada orang yang saling menyampaikan ide-ide atau narasinya dalam perdebatan,” papar Anis Matta. Fenomena ini tentu saja sangat menyedihkan.
Karena kita sedang berada di tengah situasi krisis dunia dan diambang Perang Dunia III antar kekuatan adidaya. Semua orang bingung menghadapi situasi seperti ini.
“Karena itu tidak ada pemimpin yang hadir dengan tingkat keyakinan yang kuat. Semua orang gamang, karenanya menghindari perdebatan,” katanya.
Sehingga untuk memenangkan situasi sekarang ini, pilihan senjatanya daripada menggunakan ideologi akan lebih memillih “mengungkap dosa” (dirty job).
“Sebab, calon pemimpin itu tidak ada succes story yang bisa diceritakan, dan juga tidak punya mimpi besar yang bisa menyakinkan orang,” bebernya.
Terakhir, perspektif teori ‘Tumit Achilles’ juga akan digunakan sebagai upaya untuk saling bongkar kasus jelang Pilpres 2024.
Teori ‘Tumit Achilles’ ini maksudnya adalah mencari titik kelemahan lawan, untuk menyerang titik itu di saat lengah agar menang Pilpres. (*)

Comment